top of page
Blog: Blog2

5 Perang Besar di Indonesia

  • Writer: Oswald 18sitio
    Oswald 18sitio
  • Nov 28, 2018
  • 5 min read


Sejarah adalah kisah atau cerita yang berhubungan dengan kejadian masa lalu yang sudah telah terjadi. Indonesia mempertahankan wilayahnya lewat cara berperang dan berdiplomasi dengan para penjajah.

5 Perang Besar Di Indonesia :

1. Perang Aceh (1873-1904)

Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda  menyatakan perang terhadap Aceh, dan mulai melancarkan tembakan ke arah Aceh dari kapal perang Citadel van Antverpen. Pada 8 April 1873 Belanda mendarat di Pantai Ceuremen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Kohler. Perang Aceh lebih dikenal dengan perang yang dipimpin oleh Cut Nyak Dhien. Ketika Perang Aceh meletus pada 1873, Cut Nyak Dhien memimpin perang di garis depan melawan pasuka Belanda yang bersenjata lengkap. Tapi, dalam pertempuran sengit di kawasan Sela Glee Tarun, Teuku Ibrahim gugur. 



Cut Nyak Dhien bertemu dengan Teuku Umar yang kemudian menjadi suami sekaligus rekan seperjuangan. Dalam perjalanan hidup mereka, anak dan menantu Cuk Nyak Dhien akhirnya juga gugur di medan perang. Ujian berat kembali dialami Cut Nyak Dhien ketika pada 11 Februari 1899 Teuku Umar gugur . Tapi, semangat tempurnya tetap menyala-nyala dan ia bertekad berjuang sampai titik darah penghabisan.

2. Perang Diponegoro (1825-1830)

Perjuangan rakyat Indonesia dalam melawan pemerintahan kolonial Belanda tidak ada hentinya, termasuk di Pulau Jawa, antara lain adanya Perang Diponegoro atau disebut juga Perang Jawa yang merupakan perang terbesar yang pernah dialami oleh pemerintah kolonial Belanda, karena berlangsung lama sekitar 5 tahun (1825-1830) dan telah merenggut banyak korban. Penyebab terjadinya Perang Diponegoro:

 1. Rakyat dibelit berbagai bentuk pajak dan pungutan

   2. Pihak Keraton Yogyakarta tidak berdaya menghadapi campur tangan politik pemerintah kolonial

   3. Pangeran Diponegoro tersingkir dari elite kekuasaan karena menolak berkompromi dengan pemerintah klonial pangeranoro memilih mengasingkan diri ke Tegalrejo.

   4. Pemerintah kolonial melakukan provokasi dengan membuat jalan yang menerobos makam leluhur Pangeran Diponegoro

 Hal tersebutlah yang membuat Pangeran Diponegoro marah.Dukungan pada Pangeran Diponegoro datang dari mana-mana sehingga pasukan Diponegoro semakin kuat.Dukungan datang dari Pangeran Mangkubumi, Sentot Alibasya Prawirodirjo, dan Kiai Mojo.

Dari pihak Belanda untuk menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro mendatangkan pasukan dari Sumatra Barat dan Sulawesi Selatan di bawah pimpinan Jenderal Marcus de Kock. Pangeran Diponegoro memimpin pasukannya dengan perang gerilya.Untuk mengatasi perlawanan Diponegoro tersebut, Gubernur Jenderal Van der Capellen menugasi Jenderal Marcus de Kock untuk menjalankan strategi benteng stelsel, yaitu mendirikan benteng di setiap tempat yang dikuasainya.Antara benteng yang satu dengan benteng lainnya dihubungkan dengan jalan untuk memudahkan komunikasi dan pergerakan pasukan.Taktik benteng stelsel ini bertujuan untuk mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro.



   Pasukan Diponegoro semakin bertambah lemah terlebih lagi pada tahun 1829 Kiai Mojo dan Sentot Alibasya Prawirodirjo memisahkan diri.Lemahnya kedudukan Diponegoro tersebut menyebabkan ia menerima tawaran berunding dengan Belanda di Magelang.

     Dalam perundingan tersebut, pihak Belanda diwakili oleh Jenderal De Kock. Perundingan tersebut gagal mencapai sepakat, kemudian Belanda menangkap Pangeran Diponegoro dan dibawa ke Batavia, yang selanjutnya dipindahkan ke Manado, kemudian dipindahkan lagi ke Makassar dan meninggal di Benteng Rotterdam pada tanggal 8 Januari 1855.

3. Perang Banjar (1859-1905)

Perlawanan rakyat Kalimantan terjadi pada tahun 1859-1905. Perang ini melawan Pemerintah Hindia Belanda. Perang ini disebabkan oleh Belanda yang ikut campur tangan dalam urusan Istana Banjar tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Adam, yaitu di wilayah Banjarmasin.

 ketika Sultan Adam meninggal pada tahun 1857, terjadilah perebutan kekuasan di Istana Banjar. Situasi tersebut dimanfaatkan oleh Belanda untuk dapat menguasai kerjaan Banjar dengan politik adu domba. Belanda yang ikut campur dalam urusan Istana malah memilih dan mengangkat Pangeran Tamjidillah sebagai Sultan Banjar 



Belanda yang semakin jauh dalam ikut campur tangan urusan Istana Banjar mendapat perlawanan dari rakyat Banjar yang memilih Pangeran Hidayat sebagai pengganti Sultan Adam. Perlawanan tersebut dipimpin oleh Pangeran Antasari. Perlawanan tersebut mendapat bantuan dari :

   1. Kiai Demang Leman 

   2. Haji Nasrun

   3. Haji Busyasin

   4. Kiai Langlang

  Pada akhirnya Belanda berusaha mendapatkan rasa simpati dari rakyat dengan mengangkat Pangeran Hidayat . Tapi, Pangeran Hidayat menolak tawaran tersebut sehingga terjadi kekosongan kekuasaan di Istana Banjar dan Belanda pun akhirnya menjadikan wilayah kekuasaannya.

4. Perang Bone (1859-1860)

Belanda mengalami kekalahan telak dalam ekspedisi sebelumnnya : 528 serdadu (316 serdadu Eropa dan 212 pribumi) terbunuh, baik di medan pertempuran maupun setelah ekspedisi berakhir. Pendudukan sementara atas Bajoe berlaku di pesisir Bone, namun di sana berbagai penyakit menyerang. Dengan demikian, ekspedisi pertama ke Bone berakhir tanpa hasil. Sikap musuh menunjukkan bahwa tidak ada lagi pembicaraan mengenai keputusan negara dan bahkan hukuman, yang dialami orang Bone, belum cukup untuk menindak sikap bermusuhan itu. Besse Kajuara (nama panjangnya We Tenriawaru Pancaitana Besse Kajuara Sultana Ummulhadi Matinroeri Majennang), memerintah antara 1857-1860,  menggantikan suaminya, Raja Bone ke-27, La Parenrengi Arumpugi Sultan Ahmad Saleh Muhiddin. La Parenrengi adalah raja yang gencar menentang pendudukan Belanda di tanah Bone. Dia mengirim surat kepada gubernur Hindia Belanda di Makassar mengajak berperang.



Pada tahun 1825, pasukan Belanda berhasil memukul pasukan Bone. Tetapi ketika Perang Diponegoro ( 1825 – 1830 ) meletus, hampir seluruh pasukan Belanda ditarik ke Jawa. Bone bisa mengambil nafas untuk menyusun kekuatan kembali dan mengadakan serangan bertubi-tubi. Pasukan Belanda baru kembali melancarkan serangan besar-besaran pada tahun 1858 – 1860. Penaklukkan yang terakhir dan menentukan kekalahan Bone, baru terjadi pada tahun 1908. Bone harus menandatangani Perjanjian Pendek.

Perjanjian Pendek ( Korte Verklaring ) berisi  :

1. Pernyataan setia kepada raja Belnada atau Gubernur Jendral sebagai wakilnya.

2. Pernyataan tidak akan mengadakan hubungan dengan pihak luar negeri.

3. Pernyataan akan menjalankan segala peraturan dan perintah yang berasal dari Gubernur Jenderal atau wakilnya. 

Perjanjian semacam ini sejak berakhirnya perang Aceh tahun 1904 selalu dipakai dan dimanfaatkan oleh pemerintah kolonial  sebagai alat politik mengikat secara hukum ( de jure ) raja-raja di Indonesia untuk tunduk mengakui kedudukan pemerintah kolonial Hindia Belanda di Indonesia.

5. Perang Batak (1978-1907)

Sampai abad ke-18, hampir seluruh Sumatera sudah dikuasai Belanda kecuali Aceh dan tanah Batak yang masih berada dalam situasi merdeka dan damai di bawah pimpinan Raja Sisingamangaraja XII yang masih muda. Pada tahun 1877 para misionaris di Silindung dan Bahal Batu meminta bantuan kepada pemerintah kolonial Belanda dari ancaman diusir oleh Singamangaraja XII. Kemudian pemerintah Belanda dan para penginjil sepakat untuk tidak hanya menyerang markas ki XII di Bangkara tetapi sekaligus menaklukkan seluruh Toba.Pada tanggal 1 Mei 1878, Bangkara pusat pemerintahan



Sisingamangaraja diserang pasukan kolonial dan pada 3 Mei 1878 seluruh Bangkara dapat ditaklukkan namun Singamangaraja XII beserta pengikutnya dapat menyelamatkan diri dan terpaksa keluar mengungsi. Karena lemah secara taktis, Sisingamangaraja XII menjalin hubungan dengan pasukan Aceh dan dengan tokoh-tokoh pejuang Aceh beragama Islam untuk meningkatkan kemampuan tempur pasukannya.

Pada tanggal 8 Agustus 1889, pasukan Sisingamangaraja XII kembali menyerang Belanda. Seorang prajurit Belanda tewas, dan Belanda harus mundur dari Lobu Talu. Sisingamangaraja XII dianggap selalu mengobarkan perlawanan di seluruh Sumatera Utara. Kemudian untuk menanggulanginya, Belanda berjanji akan menobatkan Sisingamangaraja XII menjadi Sultan Batak. Sisingamangaraja XII tegas menolak iming-iming tersebut, baginya lebih baik mati daripada menghianati bangsa sendiri. Belanda semakin geram, sehingga mendatangkan regu pencari jejak dari Afrika, untuk mencari persembunyian Sisingamangaraja XII. Barisan pelacak ini terdiri dari orang-orang Senegal. Oleh pasukan Sisingamangaraja XII barisan musuh ini dijuluki 'Si Gurbak Ulu Na Birong'. Tetapi pasukan Sisingamangaraja XII pun terus bertarung. Tahun 1907, di pinggir kali Aek Sibulbulon, di suatu desa yang namanya Si Onom Hudon, di perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi yang sekarang, gugurlah Sisingamangaraja XII oleh peluru Marsuse Belanda pimpinan Kapten Christoffel.

Comments


  • facebook
  • twitter
  • linkedin

©2018 by Oswald Navaro Sitio. Proudly created with Wix.com

bottom of page